Sunday, December 6, 2015

Kau Yang Rasa

Seperti yang kau bilang, aku pun ingin begitu.
Seperti yang kau harap, aku pun telah lama berharap.
Tapi aku tak seperti itu. Tak seperti yang kau rasa.

Karena aku hanya manusia biasa. Aku bukan mutiara yang berkilauan. Bersinar dengan kilauan yang begitu bercahaya. Wajahku ini penuh debu. Aku juga bukan bidadari, yang tertunduk malu, taat lagi patuh. Bahkan tubuh ini juga di penuhi asap jika saja aku tak mencari sumber air yang banyak untuk menyiramnya.
Semua seperti berkebalikan dengan apa yang kau lihat, teman.
Aku tidak ingin menyanggah agar di anggap semakin indah.
Ini sebuah pengakuan.
Agar kau tak menyesal nantinya ketika pada akhirnya tetap memilih aku.

Friday, December 4, 2015

Taman hati

Taman... Tempat yang ingin selalu aku kunjungi setiap pagi dan sorenya. Untuk menikmati cuaca, melihat kuncup bunga yang mulai mengembang, membaca buku kesukaan atau hanya sekedar ingin melihat suasana taman yang sekali-kali diiringi pejalan kaki yang melewatinya. Mungkin juga aku hanya ingin menyendiri atau bahkan merenung di antara semerbak aroma serbuk putik yang berjatuhan.

Begitu damai. Itu yang mampu kurasa dan kubayangkan. 

Bersamainya, mengajarkan aku untuk menjenguk taman hati ini.
Yang entah aku tumbuhi dengan apa, dan bagaimana kualitas benih-benih sudah ku taburi setiap waktunya. Pun entah aku sirami dengan apa, untuk bisa ku nikmati hasil bunganya kelak.

Taman Hati. Seolah bunganya kini tengah berguguran di musim hujan. Bercampur baur dengan aroma lumut yang memenuhi dinding pot. 

Mungkin sudah saatnya taman itu kuperbaharui, agar bisa ku siapkan taman hati yang baru,  yang akan
tumbuh semakin indah walau di tengah musim yang semi.

Sepasang sandal

Bagai sepasang sandal, ia hadir untuk saling melengkapi. Indah di kala digunakan secara bersamaan. 
Ia tak berfungsi kala sendiri, bahkan jika dipaksa digunakan membuat orang lain berjalan pincang karenanya.

Seperti sepasang sendal itu, sejalan seirama. Iringan bersenada saling mengikuti langkah-langkah. Menyamakan ritme posisi dengan begitu akurnya..

Mhm.. Sepasang sendal itu.. Tidak kah hadir di hadapan mu dengan senyum penuh nasihat?

Thursday, December 3, 2015

Istana di awan

Hmmm... Ffuuuhh... Aku mengambil nafas panjang, dan kembali ku lepaskan ke udara. Serasa aku baru saja kembali dari pertapaan selama ratusan hari.
Yah, aku kembali di dunia antah barantah ini. Dimana aku membangun istanaku sendiri. Mungkin ini lah yang ku sebut negeri atas awan. Dengan singgasana yang sulit di jangkau banyak orang, tapi mereka tahu aku ada di sana, sedang duduk sambil memikirkan nasib rakyatnya yang masih samar.
Sepertinya saya sudah sedikit berlebihan. Tapi yang pasti aku baru saja kembali. Dengan musim yang berbeda ku ingin menyapa mereka yang di sana. Yang selalu menanti kepulanganku dengan sabarnya. Tanpa lelah selalu menanyakan kabar. Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan rindu, tapi serasa begitu malu. Hmm..
Ingin bercerita tentang pertapaanku yang tak selalu berjalan mulus. Ada-ada saja bisikan yang kadang membuatku terlintas 'sudah lah, menyerah saja. Nanti kau bisa bertapa juga di tempatmu yang baru. Atau di istanamu yang baru kau akan lebih fokus lagi'. Lagi-lagi ku harus hela nafas panjang, ketika jeritan-jeritan kemarahan itu bermunculan, karena mereka saja tang belum paham. Tapi aku masih di sini. Aku lega saat ini masih bisa berada di istana ini. Walaupun pertapaanku penuh dengan cobaan, tapi bukankah aku masih bisa bertahan karenanya. Tidak ada yang sia-sia nyatanya. Walau kini aku lebih sedikit berani, keluar dari pertapaan tanpa harus lari meninggalkan istana ini. Karena misi masih berjalan, dengan tekad yang belum padam.

Terimakasih ayah,ibu dan kakak-kakak ku. Kalian semua adalah motivasi terbesar hidupku. Terimakasih teman, yang telah setia menyediakan telinga untuk mendengar candaan yang tak begitu lucu itu. Semoga Allah persatukan kita semua di surga-Nya kelak. Aamiin

Thursday, March 27, 2014

Mahalnya Hidayah Allah di diri seorang Wanita

Saudariku, mari sejenak kita merenung dengan kisah seorang wanita agung ini. Ummu Sulaim binti Milhan, tentu namanya tak asing bagi sebagian kita. Betapa kecintaannya pada Allah, membuat pemuda tampan yang ingin menikahinya menjadikan ISLAM sebagai MAHAR darinya. Subhanallah. Mari kita belajar dari kisahnya ini.

Ummu Sulaim binti Milhan adalah seorang wanita Ansar yang termasuk orang-orang pertama masuk Islam. Itu lah hidayah Allah kepadanya. Suaminya bernama Malik bi Nadar, seorang yang membenci Islam, darinya lahirlah seorang putra yang bernama Anas. Karena kebencian Malik bin Nadar terhadap Islam, ia meninggalkan istri dan anaknya yang tidak mau meninggalkan Islam.

Saat mengetahui suaminya sudah meninggal dunia dalam usia muda, Ummu Sulaim menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Kemudian datanglah seorang pemuda Madinah yang paling tampan, paling kaya dan paling kuat bernama Abu Talhah. Bagi Abu Talhah, banyak wanita yang tertarik dengan ketampanan, kekayaan dan kekuatannya. Ia sendiri mengira bahwa kesemua hal itu mampu membuat Ummu Sulaim bahagia dengan lamarannya. Ia terkejut saat datang menemui Ummu Sulaim yang berkata padanya "Wahai Abu Talhah, apakah kamu tidak tahu, bahwa tuhan yang kamu sembah adalah pohon yang tumbuh dari tanah dan dipahat oleh seorang Habsyi dari keturunan si fulan?". Ia menjawab, "benar." lalu Ummu Sulaim bertanya lagi, "Apakah kamu tidak malu bersujud di hadapan pohon yang tumbuh dari tanah dan dipahat oleh seorang Habsyi dari keturunan si fulan?"

Abu Talhah menyombongkan diri dengan menawarkan mahar yang sangat mahal dan kehidupan yang serba cukup, namun Ummu Sulaim bersikeras mempertahankan keimanannya seraya berkata, "Demi Allah, wahai Abu Talhah, orang sepertimu pasti menjadi idaman, tetapi sayang keadaanmu kafir, sedangkan aku beriman. Aku tidak bisa menikah denganmu. Apabila engkau masuk islam, maka itulah mahar yang aku minta dan aku tidak meminta darimu selainnya." Keesokan harinya, Abu Talhah kembali mendatangi Ummu Sulaim dengan tawaran mahar yang lebih banyak lagi. Tetapi Ummu Sulaim tetap pada pendiriannya. Keteguhannya ini membuat Abu Talhah semakin tertarik. Ummu Sulaim berkata, " Wahai Abu Talhah, apakah kamu tidak tahu, bahwa tuhan yang kamu sembah adalah pohon yang tumbuh dari tanah dan dipahat oleh seorang Habsyi dari keturunan si fulan? Dan jika engkau membakarnya, maka tuhanmu akan terbakar?." Pertanyaan Ummu Sulaim ini meyentuh hati Abu Talhah, kemudian ia masuk Islam dan memperistri Ummu Sulaim (HR. Nasa'i)

Subhanallah, betapa teguhnya seorang wanita pada keyakinannya. Semua tentu karena petunjuk Allah. Maka, sebagai muslimah jangan melihat seseorang dari ketampanan, kekayaan dan kekuatannya. Jikalau ia kafir, maka budak lelaki Muslim itu lebih baik darinya. Maka ukurlah seorang lelaki dari ketaatannya kepada Allah Azza wa Jalla. Wallahu  a'lam. Semoga bermanfaat.

Saturday, March 22, 2014

Miftahul Jannah

Salam. Hai sobat, kali ini kita sedikit ceritain tentang Miftahul Jannah. Wah, jadi ingat mbak ku yang namanya gitu. Hee.. Eits, tapi bukan ceritain orangnya ya,, Tapi makna dari kata itu.

Miftahul jannah berarti kunci surga. Subhanallah, yang namanya Miftahul jannah semoga syarat untuk membuka surga kelak terpenuhi dan juga untuk semua kita tentunya. aamiin.

Kalimat agung Laa ilaahailallah, hiya miftahul jannah. Kalimat itu menjadikan salah satu keabsahan Islam seseorang. Tentu saja ia menjadi pokok yang utama dan sangat penting untuk kita. Dan banyak sekali kita hanya mengerti ucapan tersebut, tapi maknanya kita tak paham. 
Ketika dia dikatakan kunci surga, bukan semata-mata hanya pernah mengucapkannya saja. Sebuah kunci pasti ada syarat agar sebuah pintu terbuka. 

Bagaimanakah seharusnya sebuah kunci itu?

Barang tentu ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu kuncinya harus bergerigi. kalau lurus mak tidak akan bisa membuka sebuah pintu syurga. pun begitu dengan kalimat Laa ilaahailallah ini, harus ada ketentuan dan syarat yang harus kita penuhi dulu. Bayangkan saja. Kalimat penyaksian ini adalah hal pertama dalam islam, baru setelahnya sholat, zakat,puasa, dan haji. Kesemuanya itu mempunyai syarat pula. 

Tapi mengapa kita sering menganggap itu hanya sekedar ucapan belaka? 

Tentu saja, berarti kita sudah meremehkan kalimat ini. Bagaimana ibadah kelanjutannya diterima sedangkan kita tak bisa memaknai kalimat utama ini, syahadat. 
Padahal konsekuensi kita dalam mengucapkan kalimat laa ilahailallah ini adalah segala bentuk ibadah, kecintaan, harapan kita hanya pada Allah. Itu yang seharusnya tertanam ketika kalimat agung itu diucapkan.

Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam